11-04-24

Merubah Kemungkaran dengan Hati

Dalam sebuah hadits Nabi, dijelaskan mengenai bagaimana seorang muslim menyikapi kemungkaran di sekitarnya. Hadits dimaksud adalah :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ كِلَاهُمَا عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ وَهَذَا حَدِيثُ أَبِي بَكْرٍ قَالَ ... سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ (رواه مسلم
)

“… barang siapa melihat kemugkaran, maka hendaklah ia merubah dengan tangannya. Maka apabila ia tidak mampu, maka (hendaklah ia merubah) dengan lisannya. Maka apabila ia tidak mampu, (hendaklah ia merubah) dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman”
Terjemahan di atas didasarkan atas penafsiran populer terhadap nash hadits yang selama ini dipahami oleh umat Islam. Namun, pada salah satu sesi Halaqah Aswaja yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat GP Ansor beberapa waktu yang lalu, di PP Krapyak Yogyakarta, Said Agil Siraj, ketua umum PB NU, mengungkapkan penafsiran berbeda yang sangat menarik, paling tidak bagi saya, seorang yang bukan ahli dibidang tafsir, hadits juga bahasa arab.
Menurutnya, kata وَذَلِكَ distu adalah isim isyarah li al-ba’id (kata tunjuk untuk yang jauh). Kata itu merujuk pada kata يُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ bukan pada kata فَبِقَلْبِهِ. Sehingga yang dimaksud selemah-lemahnya iman bukanlah berusaha merubah kemungkaran dengan hati, tetapi justeru mereka yang melakukan dengan tangannya-lah yang imannya lemah.
Penjelasan di atas disampaikan oleh Said dalam konteks “menyindir” ulah kelompok-kelompok “garis kanan” yang gemar melakukan kekerasan atas nama agama. Termasuk di dalamnya FPI, HTI, MMI, JAT, dan lain-lain. Meskipun sesungguhnya melakukan “perubahan dengan tangan” itu tidak bisa dipersempit maknanya menjadi “kekerasan”.
Penjelasan yang sama kembali disampaikan besok harinya pada forum rapat pleno PB NU di tempat yang sama. Pada forum itu, saya dengar beberapa kyai, diantaranya KH. Mas Achmad Subadar dari Pasuruan, sempat menyanggah penafsiran Said mengenai makna hadits tersebut. Namun, saya tidak menyaksikan sendiri peristiwa itu, termasuk argumentasi yang dipakai kyai-kyai untuk menyanggah penafsiran Said.
Pada tanggal 23 April yang lalu, berlangsung forum Bedah buku saya “Pemikiran KHM. Hasyim Asy’ari tentang Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah” di UNISLA Lamongan. Salah satu pembanding dalam diskusi tersebut menyampaikan penafsiran yang berbeda lagi. Menurutnya, kata أَضْعَفُ pada teks hadits tersebut merupakan derivasi (musytaq) dari kata ضَعِيْفُ (lemah), atau kata ضعف (berlipat). Pemaknaan populer dari kata tersebut ialah “selemah-lemah iman”. Sehingga dipahami bahwa seseorang yang berusaha merubah kemungkaran dengan hatinya memiliki tingkat keimanan yang rendah. Karena menerjemahkan kata أَضْعَفُ dari akar kata ضَعِيْفُ . Padahal, apabila diterjemahkan dari akar kata ضعف , maka sebenarnya orang yang melakukan perubahan kemungkarann dengan hatinya, justeru derajat imannya lebih tinggi.
Melakukan usaha untuk merubah kemungkaran dengan hati, bukan berarti ketidakberdayaan, karena hanya berhenti pada penolakan hati terhadap realitas kemungkaran. Merubah kemungkaran dengan hati justru harus dilakukan dengan mendoakan pelaku kemungkaran itu untuk mendapatkan rahmat dan hidayah dari Allah, agar kelak tidak lagi mengulangi perbuatannya. Tindakan seperti ini tidaklah remeh. Ia memerlukan kesiapan jiwa dan kemampuan spiritualitas yang luar biasa. Bagaimana tidak, sementara ketika hati melakukan penolakan terhadap realitas kemungkaran di depan mata, kita diminta untuk mendoakan pelakuknya supaya memperoleh kebaikan. Bukankah hal ini sesuatu yang sangat berat ?. Karena itu, yang mampu malakukan hal ini, hanyalah mereka imannya “berlipat-lipat”.
Alkisah, dalam kitab al-Hawi, diceritakan bagaimana seorang ulama sufi dalam pelayarannya ketika menjumpai rombongan muda-mudi yang berpesta-pora dengan cara-cara penuh kemungkaran di atas kapal lain yang melintas. Seorang awak kapal menyarankan sang sufi supaya berdoa kepada tuhannya agar berkenan menenggelamkan kapal yang penuh kemungkaran itu. Lalu, apa respons sang Sufi ?. Ia malah berdoa: “Ya Tuhan, sebagaimana engkau telah memberikan kegembiraan kepada mereka di dunia, berikanlah kepada mereka kegembiraan nanti di akhirat”. Betapa terkejutnya para awak kapal mendengar doa sang sufi. Teka-teki itu baru terjawab, ketika suatu saat yang lain, rombongan pemuda-pemudi itu datang kepada sang sufi untuk menyatakan pertobatannya dan kemudian menjadi hamba-hamba Allah yang saleh.
Nah, dengan demikian, melakukan ikhtiyar untuk merubah kemungkaran dengan cara ini, bukanlah suatu yang tidak berguna. Cinta dan kasih sayang adalah kekuatan spiritual yang dahsyat. Pendekatan cinta dan kasih sayang justeru akan mampu menembus relung kesadaran para pelaku kemungkaran. Cinta dan kasih sayang juga beriring dengan sifat rahman Allah atas makhluknya. Maka apabila keduanya berjalan bersama, akan melahirkan perubahan yang luar biasa.
Agaknya, penafsiran terakhir ini lebih relevan daripada memperdebatkan akurasi penafsiran Said Agil Siraj yang bisa jadi menimbulkan ketersinggungan sementara kelompok yang sesungguhnya telah berusaha menggunakan sumber daya yang dimilikinya untuk mendakwahkan Islam dengan caranya masing-masing.

11-03-21

AHMAD HAKIM JAYLI: Particular Sunnisme, Aswaja Ala Hadratus Syekh

AHMAD HAKIM JAYLI: Particular Sunnisme, Aswaja Ala Hadratus Syekh: "Sehari sebelum NU berusia 85 tahun (hitungan milady), saya diundang sahabat saya, Dr. M. Muhibbin Zuhri untuk memandu sebuah diskusi buku. '..."

11-02-27

DARI BEDAH BUKU DI MUSEUM NU

Senin, 31 Januari 2011

Diskusi Buku Pemikiran KH M Hasyim Asy’ari tentang Ahlussunnah Wajamaah karya Dr H Achmad Muhibbin Zuhri MAg di Museum NU, digelar Minggu (30/1). Terungkap adanya dialektika Islam dengan tradisi, budaya dan pemikiran yang berkembang di masyarakat setempat.

Banyak nilai-nilai yang bisa dipetik dan diterapkan dari ideologi Keislaman yang dibangun KH Hasyim Asy’ari saat mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Hanya saja, implementasi dari paradigma berdasarkan ajaran Sunni itu belum banyak dilakukan.

Wajah Sunni NU sangat dipengaruhi paradigma Ahlussunnah waljamaah (Aswaja) KH Hasyim Asy’ari. Penelitian yang dilakukan Dr H Achmad Muhibbin Zuhri MAg untuk disertasi program doktoralnya menemukan, corak Sunni KH Hasyim Asy’ari sangat khas dan tidak sebangun persis dengan konstruksi Sunni era awal. Meski demikian, dalam banyak hal, ideologi yang dibangun Mbah Hasyim tetap mencerminkan pola ajaran Sunni.

“Mbah Hasyim membangun paradigma Islam lokal yang kolaboratif. Di satu sisi, ajaran Islam dijalankan sesuai akidah. Namun ajaran itu dikolaborasikan dengan budaya dan tradisi masyarakat setempat sehingga bisa diterima masyarakat dengan mudah,” kata Muhibbin.

Muhibbin mengatakan, dalam pemikirannya, Mbah Hasyim memang banyak membela kaum Islam tradisionalis di Indonesia. Namun tidak jarang pula, Mbah Hasyim mengkritik keras Islam tradisionalis jika apa yang dilakukan sudah menyimpang dari ajaran agama.

Sebagai contoh, NU mengenal tradisi kenduri, tahlilan, perayaan Maulid serta peringatan tiga hari atau tujuh hari pasca-kematian. Namun, Mbah Hasyim sangat menentang jika kegiatan tersebut dicampur hal-hal yang tidak sejalan dengan ajaran agama. Seperti tradisi perayaan Sekaten yang digelar setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Jika tidak sesuai dengan ajaran agama, Mbah Hasyim tidak segan-segan melarang dijalankannya sebuah tradisi,” kata Muhibbin.

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya, Prof Dr Nur Syam, mengatakan KH Hasyim Asy’ari termasuk ulama yang belajar langsung tentang Sunni di Arab. Namun begitu kembali ke Indonesia, ia tidak menerapkan ajaran itu mentah-mentah. Faktor budaya dan tradisi masyarakat setempat tetap diperhatikan dalam mengajarkan agama.

“Implikasi dari ilmu yang diperoleh di Arab tetap disesuaikan dengan kondisi di Indonesia,” kata Nur Syam.

Menurut Nur Syam, hal itu terjadi karena saat Islam masuk ke Indonesia, sudah ada budaya dan tradisi yang melekat kuat di masyarakat. Inilah mengapa, secara perilaku, Islam di Indonesia berbeda dengan Islam di Arab.

“Ini wujud dialektika Islam dengan tradisi, budaya dan pemikiran yang berkembang di sini,” kata Nur Syam.

Sementara Wakil Ketua Umum PBNU, KH As’ad Said Ali, menilai pemikiran KH Hasyim Asy’ari yang selalu menjadi penengah memiliki implikasi pada keberadaan NU sebagai organisasi yang independen. As’ad Said menyebutkan, ada tiga pilar utama yang menjadi dasar NU. Pertama, terkait politik kebangsaan.

“Dalam hal ini, NU bersifat strategis dan taktis. Secara strategis, NU sangat tegas dan memiliki komitmen terhadap fiqih agama. Sedangkan secara taktis, NU bisa fleksibel,” kata As’ad Said.

Kedua, dalam konteks kebangsaan, NU selalu bergandengan tangan dengan TNI karena sama-sama mendukung negara. Jika terjadi kekacauan politik dan keamanan di negeri ini, NU selalu berada di belakang mereka yang mendukung bangsa.

“Artinya, NU tidak berpihak pada pemerintah maupun oposisi. NU selalu berpihak pada mereka yang mendukung bangsa. Di sinilah letak independensi NU,” kata As’ad Said.

Ketiga, NU ikut meningkatkan kemampuan ekonomi umat. Dalam hal ini, NU berupaya agar taraf hidup masyarakat kelas menengah ke bawah bisa ikut terangkat. Misalnya, menghubungkan badan usaha milik negara (BUMN) dengan usaha kecil menengah (UKM). Sesuatu yang menurut As’ad Said belum banyak dilakukan pemerintah.

“Sebenarnya banyak pemikiran Mbah Hasyim yang bisa diterapkan. Namun pemikiran itu akan hilang jika kita tidak menjalankannya,” kata As’ad Said.

Koleksi Museum NU

Sementara itu, dalam serangkaian acara bedah buku tersebut, diluncurkan foto presiden pertama Hoodfbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO), H Hasan Gipo, yang secara resmi dipajang di museum di kawasan Jl Gayungsari Timur tersebut. Foto Hasan Gipo ditemukan setelah pihak museum mencari selama empat tahun. Foto akhirnya ditemukan di Yayasan Gipo yang berlokasi di kawasan Nyamplungan, Surabaya.

“Saya tidak tahu kenapa foto Hasan Gipo sulit dicari. Mungkin karena dulu jarang difoto. Atau sebenarnya fotonya ada tapi disimpan pihak keluarga yang sulit dilacak,” kata Kurator Museum NU, H Choirul Anam, dalam launching foto H Hasan Gipo di Museum NU.

Hasan Gipo sendiri empat kali menjabat presiden HBNO atau sekarang Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Hanya saja, tokoh ini jarang disebut dalam catatan sejarah maupun berbagai kajian tentang NU. Berbeda dengan para pemimpin pertama organisasi-organisasi lainnya yang diabadikan fotonya maupun dikenang perjalanan hidupnya.

“Beliau menjabat hingga empat kali muktamar yang waktu itu masih diselenggarakan setiap tahun,” kata Choirul Anam.

Semasa hidupnya, Hasan Gipo dikenal sebagai pribadi yang low profile. Namun sebagai seorang santri, tokoh yang tidak diketahui pasti tahun kelahirannya ini memiliki kompetensi yang lebih dibanding kebanyakan orang. Ia cakap membaca dan menulis dalam tulisan latin.

Hubungan Hasan Gipo dengan sesama juga bagus. Termasuk kemampuan mengelola organisasi serta kemampuan teknis lainnya. Seperti penggalangan dana untuk mencukupi pembiayaan organisasi.

Selain berjiwa pemimpin, Hasan Gipo dikenal sebagai sosok pemberani. Menurut penuturan KH Saifuddin Zuhri, Hasan Gipo pernah menantang tokoh PKI, Muso, pada 1926 menyusul perdebatan panjang antara Kiai Wahab Hasbullah dengan Muso tentang Tuhan.

“Muso ditantang Hasan Gipo menabrakkan diri ke kereta untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Ditantang seperti itu, Muso langsung mundur,” kata Choirul Anam.

Selain dipajang di Museum NU, foto Hasan Gipo juga diserahkan ke PBNU. Foto diberikan langsung oleh H Choirul Anam kepada Wakil Ketua Umum PBNU, KH As’ad Said Ali.

“Nantinya, pihak yang ingin membuat replika Hasan Gipo harus melalui Museum NU,” kata Choirul Anam.

11-02-06

oh,.. Ahmadiyah

Kekerasan --oleh pihak yang tidak memiliki kewenangan-- terhadap umat manusia, apapun agamanya, termasuk Ahmadiyah, adalah dosa ; pembiaran negara atas peristiwa itu adalah maksiat ; sama halnya dengan meridlai --apalagi melindungi, dan atau membela-- perbuatan dosa, kemaksiatan atau juga kesesatan, siapapun yang melakukannya, semuanya itu tergolong perbuatan bathil. wallahu a'lam

Kalimat ringkas di atas, mewakili keresahan saya terhadap fenomena penyerangan yang dilakukan oleh seribuan warga Desa Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, terhadap Jemaah Ahmadiyah di Desa Umbulan setempat, Minggu, 6 pebruari 2011. Peristiwa serupa juga beberapa kali terjadi sebelumnya di berbagai daerah, terutama sejak Majlis Ulama Indonesia (MUI) menyatakannya sebagai aliran sesat.
Aparat keamanan tidak berbuat apapun untuk menghalangi, apalagi mencegah terjadinya peristiwa itu. Dalam hal ini, sepertinya negara telah melakukan pembiaran aksi-aksi kekerasan dan sesama warga negaranya.
Sementara itu, berbagai pihak, termasuk para ulama meyayangkan, menyesalkan, mengecam, sampai mengutuk perbuatan itu, dan meminta kepada aparat berwenang untuk mengusut tuntas para pelakunya. Yang lebih kencang lagi kutukannya adalah dari para aktivis, terutama yang konsen pada isu HAM dan penyokong gagasan pluralisme, mereka, selain mengutuk, juga akan melakukan berbagai aksi. Antara lain seperti tergambar pada salah satu pesan seorang kawan di twitter sebagai berikut :
"Undangan Aksi Solidaritas bersama Menolak Kekerasan - di ISTANA, Senin, 7 Februari jam 12.00 dress code HITAM. Bantu SEBARLUASKAN! Bagi yang tidak bisa ikut mohon mengenakan baju hitam sebagai simbol solidaritas".